Entri Populer

Senin, 04 Oktober 2010

Cara Memotret Kembang Api Tahun Baru


Setiap kali terjadi momen pergantian tahun atau hari perayaan lainnya, kita mendapati penyelenggaraan pesta kembang api. Dan anda sebagai penggemar fotografi pasti tidak akan melewatkan kesempatan memotret kembang api. Foto kembang api yang indah bisa sangat membanggakan bagi pemotretnya hingga bisa dipamerkan kepada siapapun.
Namun memotret kembang api tidaklah semudah dibayangkan. Ingin menghasilkan foto kembang api yang dahsyat? berikut beberapa tips-nya:
  1. Tripod wajib dipakai sehebat apapun tangan anda menjaga kestabilan kamera, akan sangat sulit menghasilkan foto kembang api yang tajam dan tidak berbayang. Anda wajib membawa tripod jika menginginkan foto kembang api yang layak dipajang di ruang tamu atau di upload di komunitas foto. Selain tripod standar yang agak merepotkan, anda juga bisa memanfaatkan Gorillapod (gambar disamping) yang sangat ringkas dan trendy. Selain tripod, jika anda memiliki shutter release (baik kabel maupun wireless) bawa dan pakailah. Dengan shutter release, mata anda akan bisa bebas mengawasi langit sehingga kemungkinan anda memperoleh momen yang pas lebih besar.
  2. Jangan Menebak Arah Kembang Api Salah satu kesulitan utama memotret kembang api adalah karena arah munculnya susah ditebak, karena itu jangan menebaknya. Cukup arahkan lensa dan set zoom anda supaya bisa menyapu area yang cukup luas (lensa zoom standar cukup ideal dipakai pada kondisi ini). Dengan begitu, dimanapun munculnya kembang anda bisa memotretnya dengan baik. Baru setelah anda mengeditnya di komputer, kita bisa crop foto sesuai selera, apakah mau crop sempit hanya di ujung kembangnya saja ataukah luas mencakup area sekelilingnya.
  3. Gunakan Resolusi Terbesar Kamera Gunakan ukuran foto terbesar yang bisa dihasilkan kamera anda. Set ukuran file Large dikamera anda (Contoh untuk kamera 12 MPx ukuran large adalah: 4288 x 2848 piksel). Hal ini untuk mendukung tujuan dari tips ke-2 diatas, jadi ketika anda meng-crop foto, hasil foto yang sudah dipotong masih cukup bagus untuk dicetak ukuran besar. Lebih ideal lagi jika kamera memiliki fitur RAW, manfaatkanlah. Jangan lupa gunakan ISO rendah 100 atau 200 agar noise terjaga.
  4. Matikan Autofokus Karena arah munculnya lumayan acak dengan gerakan yang cukup cepat ditambah kondisi minim cahaya, autofokus kamera akan keteteran. Untuk itu matikan autofokus dan gunakan fokus manual, caranya: saat masih di mode autofokus cari bangunan atau obyek dengan jarak yang kira-kira sama dengan munculnya kembang api, fokuskan ke sana lalu kunci, setelah itu matikan autokus kamera dan berganti ke manual focusing. Cara paling mudah adalah di manual fokus, set fokus lensa di infinity. Satu lagi, jangan lupa saat anda mengubah zoom lensa, set fokus yang baru).
  5. Matikan Flash - flash dikamera anda tidak akan berguna sama sekali saat pemotretan kembang api karena jangkauannya yang pendek dan bahkan bisa memperburuk foto karena menerangi daerah yang tidak perlu, karena itu matikan.

  6. Tips Setting Eksposur Lebih baik gunakan mode manual eksposur, dan untuk kondisi pemotretan kembang api pada umumnya, pakai setting eksposur berikut: Kecepatan kembang api normal: Aperture F/16 -  Shutter 2 detik dan ISO 100 atau Aperture: f/14 – shutter 2 detik dan ISO 200; Kembang api rentetan cepat: Aperture: f/18 – Shutter 1.25 detik dan ISO 100
    Tentu saja anda bisa bebas merubah setting sesuai selera jika mau, ini hanya sekedar saran Bang Belfot. Tips: Jika anda mengikutkan bagian bangunan, ukur eksposur dibangunan tadi lalu ubah sedikit di under.
    Memotretlah Sebanyak – banyaknyaYa, karena anda tidak perlu membeli film, jangan batasi diri, bidik dan jepret sebanyak yang anda mau. Makin banyak anda jepret, paling tidak makin banyak foto bagus yang bisa didapat. Jangan malu kalau terlihat heboh sendiri, kalau hasilnya bagus malunya terbayar lunas








50D vs D90






Antara D90 dan 50D??
Persaingan di kelas DSLR kelas menengah semakin meriah dengan hadirnya dua produk anyar dari sang dua besar : Canon dan Nikon. Melanjutkan sukses EOS 40D, Canon kini membuat penerusnya yang dinamai EOS 50D. Sama seperti Canon, Nikon pun membuat penerus dari D80 yang kini diberi nama D90. Baik Canon EOS 50D dan Nikon D90 keduanya diluncurkan pada saat yang hampir bersamaan, yaitu 26-27 Agustus 2008 sehingga tampak sekali persaingan yang amat sengit antar kedua kubu ini.




Pertama, Canon EOS 50D sebagai andalan Canon untuk mengisi kelas menengah, ditujukan bagi mereka yang menginginkan kamera DSLR Canon yang terbaik di kelas sensor berukuran APS-C. Selain memakai sensor CMOS 15 MP, 50D hampir tidak terlalu banyak memyempurnakan spesifikasi pendahulunya yang memang sudah amat baik. Perubahan paling mendasar (selainresolusi 15 MP) adalah penggunaan engine Digic 4, ISO 3200 (sebelumnya 1600), layar LCD 3 inci resolusi tinggi, contrast detect live-view (sebelumnya hanya adaphase detect),  dan sedikit lebih lambat dalam continuous shooting (6,3 fps dibanding 6,5 fps). Bahkan dari segi desain bodi pun 50D ini hampir serupa dengan 40D, baik tampak depan maupun belakang. Sebagai lensa kitnya, Canon memperkenalkan lensa baru EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS.




Selanjutnya, target Nikon D90 ini adalah sebagai perpaduan antara D60 dan D300, dimana segala hal yang berkaitan dengan kemudahan pemakaian (user friendly) dari D60 dapat ditemui di D90. Demikian pula dengan kemampuan D300 (sebagai DSLR terbaik di kelas DX) diwariskan di D90 ini seperti kemampuan 3D tracking AF dan layar LCD resolusi tinggi. Hanya saja jangan harap keunggulan D300 berupa 51 titik AF akan diwariskan di D90, sebagai gantinya D90 memiliki 11 titik AF saja. Beberapa hal yang membedakan D90 ini dibanding pendahulunya adalah pemakaian sensor CMOS (sebelumnya CCD) beresolusi 12 MP, Expeed engine, ISO 3200 (sebelumnya 1600), live-view dengan kemampuan merekam video HD (pertama dalam sejarah), layar LCD 3 inci (sebelumnya 2,5 inci), anti debu dan kemampuan Geotagging dengan modul GPS tambahan. Sebagai lensa kitnya, Nikon memperkenalkan lensa DX 18-105mm f/3.5-5.6G ED VR AF-S.


Lantas, bagaimana kedua DSLR kelas menengah ini bersaing secara head to head? Mereka berbagi kelas yang sama, dengan viewfinder prisma dan layar LCD 3 inci yang sama-sama beresolusi tinggi, dengan sama-sama memiliki sensor CMOS berukruan APS-C, sama-sama memiliki fitur live-view, dan sama-sama tersedia fasilitas wireless flash commander. Namun tetap saja keduanya memiliki kelebihannya masing-masing :


  • Resolusi : Apakah anda menganggap 15 MP lebih baik dibanding 12 MP? Bila iya, maka EOS 50D bolehlah dianggap lebih unggul dibanding D90. Saya mengangapnya 15 MP tidak lebih baik dari 12 MP, sehingga saya pribadi menganggap keduanya draw.
  •  Auto fokus : Tampaknya, keunggulan D90 bukan cuma dalam jumlah titik fokusnya yang punya 11 titik (dibanding 9 titik pada 50D). Keunggulan utama D90 adalah adanya warisan fitur D300 yaitu 3D tracking AF yang mampu mengikuti pergerakan objek yang cepat. 
  • Kinerja : Continuous shooting 50D mampu mencapai 6,3 fps, sementara D90 ‘hanya’ sanggup hingga 4,5 fps. Sementara itu shutter tercepat 50D juga bisa hingga 1/8000 detik dan D90 lagi-lagi kalah dengan ‘hanya’ 1/4000 detik. Meski demikian, usia shutter keduanya sama yaitu teruji hingga 100 ribu jepret. Kemampuan ISO tinggi 50D hingga ISO 3200 namun bisa diangkat ke level 1 (ISO 6400) dan level 2 (12800), sementara D90 juga mampu hingga ISO 3200 dan bisa diangkat 1 level ke ISO 6400.
  • Fitur modern : Meski keduanya sama-sama dilengkapi fitur modern yang lengkap, seperti sistem anti debu pada sensor, dan live view, namun D90 unggul dalam hal movie mode beresolusi HD 720p dan geotagging melalui penerima GPS terpisah.


Untuk siapakah kamera-kamera ini?
EOS 50D ditujukan bagi mereka yang mencari kamera DSLR Canon terbaik di kelas sensor berukuran APS-C. Ya, crop factor 50D tetaplah 1,6x seperti pada 40D ataupun kasta dibawahnya 450D/1000D. Bagi yang ingin menikmati sensor Full Frame terbaru dari Canon, tunggulah kehadiran Canon EOS 5D mark II yang tak lama lagi akan segera keluar.
Nikon D90 lebih ditujukan bagi mereka yang tidak memerlukan fitur berlebih dari kamera DSLR Nikon terbaik di kelas sensor berukuran APS-C yaitu Nikon D300, namun juga tidak ingin dibatasi oleh minimnya fitur pada Nikon D60. Apalagi Nikon D80 telah cukup ‘tua’ sehingga banyak fiturnya yang terasa tertinggal, sehingga hadirnya D90 dirasa dapat melengkapi jajaran DSLR Nikon utamanya di kelas menengah. Anggaplah D90 ini adalah versi minimalis dari D300, meski keduanya sama-sama kamera DSLR kelas menengah berformat DX yang memiliki crop factor1,5 x. Bagi yang ingin menikmati sensor Full Frame dari Nikon, bisa mempertimbangkan Nikon D700 yang sepintas tampilannya amat mirip seperti Nikon D300.
Jadi mana yang menurut anda lebih bagus????
semuanya tergantung pada pilihan anda.....